Sosialisasi Pencegahan COVID-19 kepada Masyarakat Dampingan Proyek
Pandemi COVID-19 tentunya berdampak baik langsung maupun tidak langsung terhadap kelompok rentan. Lansia dan mereka yang tidak mempunyai akses ke teknologi menjadi salah satu kelompok rentan yang tidak terpapar informasi. Ketiadaan sumber informasi yang relevan dan kredibel dapat mendorong mereka semakin rentan dan mudah untuk termakan berita-berita palsu (hoax) yang beredar mengenai pandemi COVID-19.
Untuk menjembatani gap yang ada, proyek I AM SAFE melakukan intervensi melalui workshop peningkatan kapasitas komunitas tentang COVID-19. Kegiatan ini diakukan di dua propinsi dengan tujuan untuk memberikan pemahaman dan informasi mengenai virus Corona dan COVID-19 serta mengajak pesertanya untuk merefleksikan dan memetakan kerentanan di wilayah masing-masing. Kegiatan dilakukan secara tatap muka dengan mengundang 10 perwakilan tokoh masyarakat, perempuan dan pemuda di wilayah yang bersangkutan. Dari komposisi peserta tersebut, diharapkan mereka menjadi jembatan dan agen informasi ke kelompok-kelompok lainnya di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.
Kegiatan ini dilakukan secara tatap muka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan aspek ventilasi, durasi dan jarak. Sebelum kegiatan dimulai, semua peserta diwajibkan untuk mencuci tangan dengan sabun dan mengenakan masker. Baik peserta maupun panitia juga melakukan cek suhu tubuh untuk mencegah peserta yang sedang tidak enak badan hadir di kegiatan.
Kegiatan dibuka dengan paparan mengenai pandemic COVID-19 oleh tenaga kesehatan setempat. Kegiatan lalu dilanjutkan dengan sessi tanya jawab dan diskusi mengenai kegiatan-kegiatan berbasis sosial kemasyarakatan yang berpotensi tinggi dalam penyebaran COVID-19. Dari rangkaian kegiatan ini didapatkan bahwa kegiatan berbasis social kemasyarakatan dan keagamaan baik di D.I. Yogyakarta maupun Nusa Tenggara Timur tetap berjalan walaupun masih dalam masa pandemi. Kegiatan yang dilakukan pun sangat beresiko tinggi karena melibatkan banyak orang dengan protokol kesehatan yang minim. Tenaga kesehatan kemudian memberikan masukan agar kegiatan yang dilakukan bisa tetap terlaksana namun aman dan rendah resiko.

